Mengukir Rindu

Setahun telah akan beranjak menemani perjalananku di negeri orang, tanah Papua yang berkesan. Pagi ini aku terbangun dengan kondisi ingantanku akan tugas-tugas pekerjaan yang kian menggila. Semakin menjadikanku manusia tak tahu waktu, tak mengerti kata santai dan tak faham akan sebuah makna luang. Namun seketika pagi ini terbisik dalam sanubari “akan seperti ini sampai kapan?”, aku hanya terdiam dan membayangkan keberadaan orang-orang yang sudah sekian lama aku tinggalkan, seperti apa sudah berkaratnya rindu dan kangen mereka atas aku yang selalu jauh dari mereka semenjak hampir sebelas tahun yang lalu. Ayah, Ibu : kita sudah sama-sama sepakat untuk bisa saling menjaga

meski saling berjauhan, bersabarlah sejenak kita akan bisa bersama kembali dalam hari-hari panjang di rumah sederhana yang telah memberiku begitu banyak pelajaran hidup itu.

Mungkin aku selalu tampak tegar dan berupaya mandiri selama ini, namun yakinlah aku tetap adalah laki-laki kecil nakal manjamu yang pendiam dan suka usil serta jail pada sodari-sodariku yang lain. Aku tetap si lanang cerewet yang tak mau beranjak dari kasur tempat tidur jika tidak Kau gendong atau aku malah akan lari ke luar rumah jika lama tak kujumpai Ibu di kamar saat aku sudah teriak dan berujar memanggil “Ibu… aku sudah bangun, cepat kemari” tentu saja dengan sedikit tangisan.

Meski kita jarang berbincang dan bercengkrama, namun percayalah Engaku adalah pribadi dan nama yang tak pernah aku lewatkan dalam setiap topik dan bahasan diskusi-diskusi panjangku di sepertiga malam dengan sang Maha. Sosokmu selalu menjadi inspirasi dalam kemandirianku, sikapmu selalu menjadi teladan dalam disiplinku, ucapanmu selalu jadi bait-bait hiasan peneguh kesepian dan kesendirianku.

Sejenak pasti kita bersama kembali, dalam sebuah kesempatan yang indah. Saat kita sudah sama-sama tak bisa menahan rasa ingin bertemu dan saling menceritakan apa yang dilakukan saat kita berjauhan. Aku kira kita sudah sama-sama faham dan mengerti, waktu kebersamaan kita selalu sempit dan singkat, karena aku laki-laki Bu, laki-laki yang sedang mendewasakan diri dan berupaya memantaskan diri agar kudapati setiap pelajaran yang akan semakin membuat aku mengerti akan makan heidup ini. Tapi semoga waktu singkat itu bisa sedikit menjadi penawar basinya rindu yang berkarat, kecut dan amisnya kangen yang sudah membusuk. Kita sudah terbiasa menghabiskan waktu indah bersama dalam kesempitan dan pendeknya kesempatan yang ada. Tapi tak apa, itu semua sudah cukup untuk aku syukuri karena yang pasti, cinta, hormat, kagum, dan doa-doaku tak kan pernah henti dan putus untuk mu. Dan pada saatnya, aku akan berada menemanimu selalu untuk memberikan hal yang tak pernah sempat aku ungkapkan, untuk membuktikan semua bakti yang tak (belum) bisa aku kabulkan, untuk menunjukan cinta dan sayang yang tak selalu aku ucapkan.

Ku ukir semua rindu dan sayangku dalam sebuah niat memuliakanmu dengan ketakwaan dan keimanan kepada sang Maha, serta pencapaianku dalam hidup ini.  

Perihal Sarip Hamid
Seorang yang sejak lama telah belajar menjadi manusia, menjelajahi samudera kehidupan dengan modal keberanian, keyakinan, dan kesabaran. Maka ia pun menemukan apa yang menjadi sebuah motto kehidupan; Think Globally, Act Locally and Keep Originally.

24 Responses to Mengukir Rindu

  1. lambangsarib mengatakan:

    meski saling berjauhan, bersabarlah sejenak kita akan bisa bersama kembali dalam hari-hari panjang di rumah sederhana yang telah memberiku begitu banyak pelajaran hidup itu. <—- kereeen

  2. Ina mengatakan:

    jadi ingat masih kanak2 dulu…. sama deh, aku nggak mau bangun kalo nggak di’jemput’ ibuku. pasti masih ngak ngek terus sampe ibu datang. klo tidur juga, minta dipijat2 sampe aku ketiduran. oh ibu….semoga kita bisa membahagiakan mereka.

  3. harya mengatakan:

    intinya mah ulah galau,,,

  4. pelancongnekad mengatakan:

    Love the picture buddy🙂

  5. properti99 mengatakan:

    Ribuan kilo jalan kau tempuh..
    lewati rintang..untuk aku anakmu
    Ibuku sayang masih terus berjalan
    walau tapak kaki penuh..penuh nanah..

  6. -Kharis A Arief mengatakan:

    Pulanglah…. Rindu pasti terbalas, HARD WORK but PARTY is the HARDEST PART. Refreshing sejenak, sarip, OK

  7. sakura suri mengatakan:

    sukses teruus!
    berjuanglah di tanah sana, Ibumu pasti selalu mendo’akanmu😀

  8. Ilham mengatakan:

    semoga bisa membalas bakti ibunya… supaya bisa ketemu nanti di surga kelak.. Amin…

  9. riskha mengatakan:

    dengan doa, hati akan saling didekatkan.. insya4wl

  10. jual alat berat mengatakan:

    baca tulisannya, ingat cerita masa kecilku dulu…yang aku tahu kenangan masa kecilku itu indah, walau berat perjalanan hidup keluargaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: