Hujan & Kenangan yang Tersimpan

Hai… apa kabar Temans semua? tulisan sudah lama di-draft, cuma baru sempet posting nih. Sumpah sedih banget liat blog sendiri, kusut dan tak berpenghuni. Alhamdulillah nih ada waktu untuk sekedar posting, dan harus buru-buru balik ke gawean. Salam rindu dan kangen untuk Temans Blogger semua, semoga sehat selalu ya, dan bisa bercengkrama ria lagi ASAP Smile. selamat menikmati…  

Sepertinya kondisi cuaca di seluruh wilayah Indonesia dari ujung timur hingga ujung barat, dari yang paling selatan sampai yang paling utara sedang mengalami kemiripain ya, Ujan Mamen🙂.

Jayapura juga diguyur hujan terus nih, effect-nya udah pasti dingin dong, pasti males keluar dari balutan selimut di atas kasur deh, dan yang paling spectacular itu perut laper aja bawaannya *modus*. Musim hujan selalu menjadi moment spesial bagi aku dan keluarga di kampung *nunjukin muka kampungan*. Lebih sering banyak waktu bersama berkumpul dan berbincang saat-saat menunggu reda hujan sebelum berangkat ke tujuan masing-masing. Nonton tv dan menyimak berita tentang perkembangan cuca yang terjadi menjadi aktivitas rutin dan wajib kami lakukan bersama setiap pagi dan sore. Berkumpul di depan tungku untuk menghangatkan tubuh, meski aku ingat suka dilarang sama Bapak dengan ujaran “kalau masih kecil itu gak boleh “siduru” deket api”. Dan hukum ini berlaku untuk semua anak di rumah termasuk Mbak dan Adekku.

Moment-moment hangat dan waktu kebersamaan yang berkualitas justru terjadi hampir di setiap musim penghujan datang, apa lagi setelah lulus sekolah dasar aku nyaris tidak punya waktu itu lagi terkecuali hanya beberapa hari saat moment lebaran ’Idul Fiti saja. Semua bermula dari kejadian satu ini: Di musim penghujan entah tahun berapa tepatnya (sekitar kelas empat atau lima SD) waktu itu, begitu berbekas dan menyisakan kenangan yang sulit diungkapkan. Entah karena begitu sedih dan tragis atau entah kerena apa, kita lanjut baca dulu aja yuk..🙂. Musim penghujan kala itu menjadi musim terheboh sepanjang sejarah di desa kami, karena terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang yang hampir menelan korban meninggal setengah dari jumlah keseluruhan warga desa tetangga yang berjarak hanya bersebelahan lereng gunung yang tepat ada di ubun-ubun tempat kami tinggali itu. Seakan musibah itu menjelajah di setiap kawasan desa yang ada, maka desa tempat aku tinggalpun tak luput dari ancaman tersebut. Suatu malam, hujan begitu deras menguyur, suara-suara gemuruh seperti batu besar yang menggelinding dari puncak gunung terdengar begitu jelas, kami (aku dan keluarga) yaris tak bisa tidur. Kondisi itu semakin parah ketika terdengar letupan suara keras seperti ledakan gunung meletus terdengar di tengah malamnya, hingga memaksa keluargaku untuk mengungsi saat itu juga ke tempat yang lebih aman. Aku tidak tahu tempatnya jam berapa ketika tiba-tiba terbangun dan sudah menempel di punggung Bapakku yang sedang berlari di gemiricik dan  gelapnya hujan tengah malah, dan ku saksikan Ibu menggendong si Adik di belakang mengikuti jejak Bapak. Kami menuju rumah nenek dari bapakku yang berada lebih jauh dari kaki gunung yang sedang bergemuruh tersebut, dan sesampainya di rumah itu kudapati sudah berkumpul semua saudara dari keluarga bapak. Begitu hiruk pikut dan berisik oleh suara tangis dan khawatir karena berbagai hal. Ada yang menangis karena merasa takut, ada juga yang menangis karena anggota keluarga yang lain masih belum ada kabar atau entah karena apa lagi tepatnya akupun tak bisa memahaminya. Aku hanya bisa diam kebingungan dan duduk bersanding di pinggir adikku yang masih terlelap tidur, dan entah dimana bapak dan ibu berada aku sudah tidak bisa berpikir dan bicara apa-apa. Tapi syukurlah malam itu tidak terjadi apa-apa hanya banjir bandang yang menyebabkan beberapa bangunan tergenang dan kamipun sudah bisa kembali ke rumah pagi itu juga. Meski malam harinya tetap tinggal dan menginap di rumah nenek, kondisi ini hampir terjadi sepanjang satu pekan menghebohkan itu. Namun setelah dinyatakan aman, kami pun kembali menempati rumah lagi.

Semenjak kejadian itu ketika turun hujan deras, kebiasaan dan ritual yang aku sering lakukan dengan adikku *karena mbakku sudah dirumahnya sendiri* adalah duduk di depan kaca jendela rumah bagian depan yang besar sambil menyaksikan hujan di luar, kami berdua menuliskan nama masing-masing pada kaca yang ber-embun sembari berdoa dalam hati “Ya Allah, lindungi keluarga kami dari setiap musibah yang datang, tetaplah kami selalu bersama”. Dan saat ini, ketika kami sudah berjauhan karena terpisah jarak dan waktu *uyeee…* moment turun hujan seakan selalu mampu menimbuklan atmospir dan hawa-hawa kebersamaan masa itu kemabil di hadpan mata dan ingatan. Dan doa itu seperti selalu menjadi senandung rinduku atas mereka semua.

*well this is actually the picture of my lovely filmy:

Kelurga

Kangen kalian semua, semoga selalu dalam lindungan Allah swt, Amien…

Bagaimana Temans, adakah hal yang juga bisa kalian share saat moment hujan datang ?? Smile 

Perihal Sarip Hamid
Seorang yang sejak lama telah belajar menjadi manusia, menjelajahi samudera kehidupan dengan modal keberanian, keyakinan, dan kesabaran. Maka ia pun menemukan apa yang menjadi sebuah motto kehidupan; Think Globally, Act Locally and Keep Originally.

10 Responses to Hujan & Kenangan yang Tersimpan

  1. Mita Alakadarnya mengatakan:

    di sidoarjo sejak awal bulan februari sudah gk pernah ujan,,,,
    itu kejadian banjirnya dimana kalau boleh tw mas???

  2. Deeniah Al Ahmar mengatakan:

    Hmm… di filmin aja gimana??.. Dramatis banget sih kisahnya. Di tambahin dengan kisah kehidupan kakak beradik manakala disekolah, di lingkungan tempat tinggal serta penggalan perjuangan” ortu untuk membesarkan ketiga anaknya. Kira” kayak film children of heaven gitu laah.. ĦiÎi ĦiÎi ĦiÎi ĦiÎi #kenapa jd ngelantur sih# pokoknya sip deh!! Aq ƍäª punya pengalaman gitu masalahnya. Dr kecil udah hidup di kota kala musim Hujάάn datang ritual aq n saudara”ku adalah membujuk ibu supaya ngijinin qt keluar rumah hujan”. Berlarian pake singlet n *sorry* celana dalam😀, sambil bawa sabun àtau shampoo.. Sekalian mandi di pekarangan pake “shower” #pancuran air dr pipa talang#. Ritual itu qt lakuin dr TK sampe… Aq SMP.. Haa??? ĦiÎi ĦiÎi ĦiÎi ĦiÎi emang iyaa..!! Cuman pas SMP aq hujan”nya di pekarangan belakang rumah Ɣªήğ tertutup, sndirian ƍäª sama masku lagi #malu# °ºqîiîkº♣=Dqîiîk:D
    Hmm.. Biar ƍäª nyeremin tp kalo diinget (´._.`)…Lucu juga ツ ħεεħεε…

  3. Fauzan mengatakan:

    Wih! Ngeri juga gue bayangin kejadian lu itu, Bro! Sekarang udah gak pernah longsong dan banjir bandang lagi kan? Semoga keluarga lu dijauhkan dari marabahaya. Amin… Titip si Bungsu ya, Bro!

    Ttd,
    Calon adik ipar yang baik

  4. Tina Latief mengatakan:

    kalau hujan saya kangen sama yang di jogja sana mas, sayangnya ngga kumpul jadi satu..

  5. Ina mengatakan:

    kenangan hujannya emang nancep yah…. semoga gak trauma aja.
    saya pernah ngerasain ngeri ketakutan waku berada di mess saat ditugaskan di samarinda. hujan deras dan kedengar kaya ada suara batu yg berglundung2 jatuh. berlangsung lamaa banget. pasrah di dalam tempat tidur, berdoa tok isinya. Alhamdulillah ternyata nggak ada apa2 cuman hujan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: