Ikhlas Itu Kebutuhan; bukan Keharusan

blue flower

Bekerja sebagai karyawan suasta yang bergerak dalam dunia pendidikan menjadikanku semakin menyadari dan mengerti apa itu sabar. Terkadang ketika semua hal telah mentok dan gelap maka hanya sikap menerima dan berSabar yang bisa menjadi piliahn terbaik *terlepas itu solusi tepat atau tidak*. Sehingga hanya sabar pilihan terbaik yang mungkin dan hanya itu yang ada. Kondisi-kondisi seperti itu bukan menjadikanku semakin merasa tertekan atau terkucilkan dari barbagai lignkungan kehidupan yang saling berkaitan dengan bidang dimana aku bekerja. Ya.. pendidikan, seharusnya itu bisa semakin menjadikanku manusia yang lebih dewasa, lebih bijaksana dan lebih bisa bersabar tentunya dalam menghadapi setiap masalah  dan tantangan kehidupan dirantau *daerah tugas*. Itu dibuktikan dengan beberapa rangkaian kejadian hari ini yang mekasaku untuk menuliskan tentang keikhlasan, tujuannya ya.. sebagai bahan pengingat buat aku sendiri agar semakin melek dan faham apa itu Sabar.

Maaf ya Temans… aku harus sampaikan pada kalian, kadang menulis/ mencatat adalah pilihan pelampiasan paling tepat bagiku ketiika beban kehidupan ini sudah kian beratnya *jadi abaikan saja, stop sampai sini saja bacanya*. Semoga setelah aku tuliskan hal-hal tersebut akan sedikit meringankan beban yang ada. Aku dilahirkan memang menjadi pribadi yang tidak begitu bisa berbgai banyak pengalaman dan cerita-cerita masa lalu dalam bentuk ucpan, aku terlalu gugup dan membisu ketika berada dihadapan orang lain, meski itu adalah orang tuaku, Aku terlalu berprasangka untuk sekedar misal menceritakan hal-hal yang aku rasakan dalam setiap perjalan kehidupan ini. Maka hanya dengan meulis aku bisa mengalir menceritakan hal-hal seperti itu. Dengan menulis aku bebas mau bercerita dan bahkan mengungkapan rasa cinta, benci, suka dan sebel sama semua hal dan kepada siapapun. Dengan bercerita pada lebaran-lembaran putih tersbut, aku semakin belajar makna kesabaran. Bagiku mereka lebih dari sekedar bersabar, tapi mereka bijaksana dengan tetap bersikap netral sebagaimanapun aku menceritakan betapa berat dan sedihnya kehidupan yang aku jalani, mereka tetap bersikap netral bagaimanapun aku menceritakan tentang kebencian dan kekesalanku pada sebuah benda atau pada seseorang. Mereka hanya bisa diam, mendengarkan dengan penuh seksama tanpa melewatkan sediktipun dan mengembalikan setiap keputusan atas setiap perkara tersebut kepadaku tanpa ada sikap memberi saran, memberi nasihat atau bahkan menyalahkanku. Mereka mengerti benar bahwa hanya diriku ini saja yang bisa benar-benar merasakan betapa aku bergembira ketika kebaikan/kebahagiaan menghampiri. Mereka begitu paham bahwa hanya diriku ini saja yang benar-benar merasakan seperti apa itu sedih, pilu, dan duka ketika kehidupan meredup dan semakin gelap. Mereka tidak sama sekali bersikap munafik yang berpura-pura mengerti perasaan sedihku karena merasa iba, mereka tidak berpura-pura ikut senang dan gembira ketika melihatku ceira karena takut disebut tidak setia kawan. TIDAK SAMA SEKALI. Orang macam apakah aku ini ? *hehe*

Keikhlasan bagiku layaknya oksigen yang jika sedikit terkontaminasi oleh asap/ debu kotoran akan menyebabkanku sesak nafas. Keikhlasan bagiku seumpama carian dalam tubuh yang ketika volum dan kadarnya berkurang semua organ penting dalam tubuh merasakan penderitaan akibat siksaan dehidrasi.  Keihlasan adalah semua unsur vital dalam kehiduapnku yang takbisa dikurangkan atau dilebihkan, yang tak bisa dicampurkan atau dimurnikan. Hanya harus seperti itu adanya dan sebagaimana mestinya.

Keikhlasan adalah kebutuhan bukan keharusan apalagi keterpaksaan. Keikhlasan bukan sebab karena aku mendapatkan pujian, keikhlasan bukan bentuk penerimaan atas sebuah ejekan dan cacian yang aku dapati dalam kehidupan ini. So bersabarlah…!!!

*Maaf klo isi postingnya rada-rada gak jelas.  Happy Thursday Pals.. Smile

Perihal Sarip Hamid
Seorang yang sejak lama telah belajar menjadi manusia, menjelajahi samudera kehidupan dengan modal keberanian, keyakinan, dan kesabaran. Maka ia pun menemukan apa yang menjadi sebuah motto kehidupan; Think Globally, Act Locally and Keep Originally.

18 Responses to Ikhlas Itu Kebutuhan; bukan Keharusan

  1. chrismanaby mengatakan:

    Tahun baru kok jadi melow gini,.. ayo semangat😆

  2. lambangsarib mengatakan:

    Seneng banget dengan tulisan ini —> Keikhlasan adalah kebutuhan bukan keharusan apalagi keterpaksaan.

  3. Ilham mengatakan:

    betul keikhlasan itu seperti oksigen yang membuat kita bisa bernafas lega meski ada gangguan dan cobaan.

  4. Ely Meyer mengatakan:

    cuma nggak semua orang bisa dgn mudah ikhlas ya, kadang ada yg butuh waktu lama utk melakukannya

  5. Mila mengatakan:

    ikhlas itu gampang gampang susah, ingat padaNya senantiasa diberikan kelapangan hati tuk ikhlas🙂

  6. Ina mengatakan:

    *duduk membaca kata demi kata curhatan dengan membayangkan bagaimana perasaan sang petualang….
    menulis memang cara ajaib melepas segala kesesakan di dada, dont worry to write anything here mas, bcoz this blog is yours, your home.
    semoga tetap tabah yah mas

  7. oomguru mengatakan:

    mu ngomen tapinya bingung..

  8. Ina mengatakan:

    aduh, masih belum mood tulis2 yah Mas. koq masih belum ada cerita lagi. semoga segala sesuatunya lancar yah

  9. Cotton bud mengatakan:

    indahnya bunga itu yang berwarna ungu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: