Belajar “DIKTE”

IMG-20121001-00131Senin kemarin saya ada jadwal untuk melakukan supervisi kelas. Sebagai Konsultan Pendidikan yang baik maka saya sampaikan kepada guru kelas yang hendak saya observe, bahwa tujuan dari dilaksanakannya supervisi tersebut ialah untuk mengevaluasi dan mencari titik temu antara fakta di lapangan dunia KBM (kegiatan belajar mengajar) dengan apa yang tertera pada Kurikulum masing-masing sekolah. Sehingga harapannya dengan dilaksanakannya supervisi secara rutin dalam minimal satu bulan sekali tersebut akan mampu menjadikan pendidik (baca guru) di sekolah dampingan menjadi pendidik yang profesional, pendidik yang mampu mensinergikan anatara perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi proses belajar mengajar dan pembelajaran yang terlaksana dalam satuan pendidikan yang diampu sehingga terciptalah sebuah PAIKEM.             *(Hadeuhh nulis opo iki.. Open-mouthed smile

Sebenarnya saya ingin bercerita tentang kejadian di kelas tersebut. Jadi kelas yang hari ini saya singgahi adalah kelas bawah (baca kelas satu) dangan jadwal mapel Pkn, dan lebih pas-nya lagi tema yang sedang dibahas pekan ini adalah “Keluarga”  –sedikit info bagi pembaca yang belum tahu, abhwa kurikulum saat ini yang dipakai oleh Negara Indonesia mengenal istilah Pendidikan Berkarakter dan menggunakan metode Pembelajaran Tematik, jadi semua mata pelajaran secara menyeluruh disampaian oleh guru per pekannya dalam satu tema yang sama– *(pasti tambah ndak kebayang… Smile sudah *abaikan saja*.

Saya selalu penasaran setaip masuk di kelas rendah, karena biasanya kelas rame dan berantakan. Hilir mudik anak-anak serta hiruk pikuk aktifitas mereka di kelas tak jarang membuat saya tertawa. Ada yang memaksa temannya minta/pinjam penghapus pansil, ada yang sibuk menyerut pensil dan ada saja yang ngobrol dengan teman sebangku meski guru sedang menjelaskan didepan kelas. Kemudian saya selalu salut dan takjub akan kesabaran guru-guru nya, mereka tak pernah marah meski sering dicuekin, mereka tak pernah membentak meski kelas begitu gaduh dan berantakan. Semuanya ditanggapi dengan senyuaman dan disampaikan dalam bentuk tutur yang sopan dan penuh kasih sayang.

Nah ceritanya, pagi itu mereka mau belajar “DIKTE”, dimana guru mengucapakan sebuah kata, dan anak-anak harus menuliskannya dengan cepat dan benar. Pada mulanya mereka begitu bergembira: “Horee… kita mau belajar dikte” sahut hampir sebagian murid di kelas. Namun beberapa saat kemudian berubah jadi petaka, karena mereka belum hafal bentuk huruf alfabet sama sekali. Maka kelas menjadi gaduh dan semerawut, saling berlarian untuk baku tanya tentnag ejaan kata tersebut, bahkan ada beberapa pertanyaan yang lucu, seperti: “Ibu bentuk G itu yang sepertiapakah?”. Saat itulah saya hanya bisa tertawa (dalam hati ya… Smile tentunya, soalnya kalo diekspresikan nanti kelas malah tambah kacau) dan kemudian terbesit dalam otak, kapan waktu sekolah dasar dulu saya mulai belajar dan bisa meluis dengan didiktekan oleh guru ya ???..

Nah sobats semua, kalau kalian masih ingat dengan istilah “DIKTE” ?, adakah kenangan yang menarik dari istilah tersebut ?

Perihal Sarip Hamid
Seorang yang sejak lama telah belajar menjadi manusia, menjelajahi samudera kehidupan dengan modal keberanian, keyakinan, dan kesabaran. Maka ia pun menemukan apa yang menjadi sebuah motto kehidupan; Think Globally, Act Locally and Keep Originally.

24 Responses to Belajar “DIKTE”

  1. Ely Meyer mengatakan:

    wha .. ingatnya langsung ke masa SD😛

    • sarip2hamid mengatakan:

      hehehe… klo aku jujur malah sudah agak2 buram kenangan masa2 SD itu,.,🙂
      apalagi ditambah jarang/ndak pernah ketemu sama temen2 SD jadi tambah lupa aja karena tidak saling bercerita ttg masa2 tsb.. *(Hadeuhh ngomong apa iki -D

  2. nengwie mengatakan:

    Jadi ingat waktu teteh dulu waktu praktek jadi Supervisor pendidikan… di SMP dan SMA🙂

    Terus ingat waktu ngajar anak kuliahan tingkat 2 dan 4 yang bakalan jd para Kepsek/pengajar/pengawas…duuuuhh sudah 15 tahun yang lalu..:)

    • sarip2hamid mengatakan:

      Hehehe..🙂 wehh Teteh juga pernah jadi Supervisor ???? wah keren donzz,
      sama aku juga pernah ngajar anak kulaih smester 1 cuma anak teknik,.😀
      skg terdampar di jaypura jadi konsultan pendidikan, kerjanya cuma diskusi sama kepsek, kadang sama kabid pendidikan di dinas kota.. ndak boleh ngajar eumm,. haha suka bosen kadang3 klo sekolah lagi adem ayem aja..🙂

  3. ronal mengatakan:

    sebenarnya DIKTE ini masih gue alamin sampe SMP…dan menurut gue cuma guru yg lagi gak mood ngajar aja makanya dia ngasih pelajaran DIKTE heheheheeee
    kalo nggak DIKTE biasanya gurunya nyuruh sekertaris kelas untuk nulis dipapan tulis😛

    • sarip2hamid mengatakan:

      Heheh gue libih parah berarti yah,., sampe kuliah juga masi tuhh kadang nemuin dosen yg kaya gitu,.,🙂

      iya sih bener bangett, biasanya karena gurunya lagi males makanya disuruh DIKTE.
      Any ways, thanks a lot Mas Ronal dah walking-walking around here,.,🙂
      Salam kenal ya,.,

  4. SanG BaYAnG mengatakan:

    Saya masih ingat masa kecil adik saya (anak paman) yang sering salah ketika di dikte huruf “B, D dan G” hahaha.. #kenengan yang menggemaskan..:mrgreen:

  5. Ina mengatakan:

    klo ingat dikte jadi ingat pak Nur.. guru sd ku yg hobbynya dikte mulu. gak pernah nerangin tapi dikte teyyyiuuus.

  6. harya mengatakan:

    kalo ditempat saya itu namanya IMLA masbro..

  7. novsabatini mengatakan:

    Waduhhhh, udah lupa Pak rasanya SD.. Apa dulu saya juga begitu ya pas belajar dikte? *penasaran sendiri*

  8. ANas van dackler mengatakan:

    peduli rakyat broo

  9. Ping-balik: Solusi Galau Versi Islam | JUST SHARE FOR YOU

  10. lambangsarib mengatakan:

    Dapat nilai “NOL”, karena memang saya bukan ahli hafalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: