Memaknai Kehidupan

Malam ini begitu cerah, seterang laut di saat fajar datang dan siang lenyap menghilang. Aku rebahkan otak dan sekejap ku lepaskan kepenatan yang menyiksa, sebagai sisa-sisa perjuangan di hari kemarin. Aku buka jendela agar ada udara –yang begitu kental dengan bau peradaban jaman moderen– masuk dan memenuhi setiap relung sanubari, tempat untuk menitipkan kedamaian dan ketentraman jiwa.  Ada bayak hal yang terjadi hari kemarin, sehingga sepertinya tak akan cukup jika keringat kujadikan tinta dan pori-pori kulit menjadi lubang pena untuk merangkai kalimat dan menceritakan setiap peristiwa. Begitu eksotis hari itu, sehingga tak mungkin bisa aku lupakan begitu saja, bahkan seandainya  kau kupas kulit ini, kemudian kau cucui dengan air laut, tak akan mungkin mampu manghapus setiap inci sketsanya dari memori otak ini. Tahu kenapa?, karena aku tulis setiap kejadiannya dalam setiap butiran sel darah merah dan aku edarkan keseluruh raga dengan batuan pembuluh vena, bahkan aku ceritakan kembali ke setiap syaraf yang sadar dan aku ukir di setiap tulang, jadi selamanya akan ada dan melekat dalam raga ini.

oh……, terasa amat dingin angin malam ini, apakah karena lapisan ozon telah rusak dan kedua kutub telah mulai mencairkan balokan-balokan es nya?,  kemudian uap-uapnya meyatu dengan udara dan sampai kekamarku saat ini. Maka pantaslah hawanya mampu membekukan setiap Niat dan menjadikan kaku setiap aktivitas organ tubuh, termasuk memberhentikan proses berpikirku dan bahkan seketika itu aku tak tahu apakah jantungku juga ikut berhenti atau tidak, karena kenyataannya sekarang ini aku masih bisa bernafas. Aku beranjak dan melangkah mendekati jendela, ku tatap langit di angkasa dan tergambar semua masa depan dengan begitu jelasnya, seperti mata normal melihat seketsa lukisan di malam hari dengan penerangan sebuah lilin kecil yag berwarna-warni, sehingga kadang menjadi tak jelas ketika angin sayup ]-spoy dantang menghampiri. Aku berpikir apakah kehidupan ini sebuah hayalan?. Hayalan yang tak akan pernah bisa aku pegang dengan sebuah rencana dan usaha maksimal?. Kenapa bintang-bintang yang amat jauh itu begitu terang seakan tetap berada di upuk mata dan menghalangi setiap langkah yang telah aku rencanakan. Harusnya aku sadar bahwa hari esok hanyalah harapan, harapan yang selalu kujadikan sumber tenaga untuk menyelusiri jalan setapak yang berliki, jalan yang aku yakini akan menyampaikanku dan bertemu dengan sosok muara kehidupan yang setiap Insan inginkan. Tapi sebenar-benarnya kehidupan ialah hari ini, saat dimana udara keluar dan masuk kedalam tubuh melalui lubang hidung.

Saat dimana jantung berdetak dan memompakan darah sehingga menyebar keseluruh tuguh.

Saat dimana otak memikirkan penyesalan di hari kemarian, sehingga tidak aku kerjakan hal yang bisa memuliakanku kelak.

Saat dimana hati bermaksud akan suatu hal yang menjadi harapan, bukan sebuah kebutuhan.

Saat mata bekedip karena begitu berat debu jalalan yang menempel di kelopak, sehingga tak kulihat sebuah kebenaran.

Saat telingga mencari suara yang membutuhkan pertolongan, tapi yang terdengan hanyalah pujian, sehingga kesombongan dan keangkuhan yang menjelma.

Saat dimana angin bertiup melambai dan mengeluskan kedamaian, sehingga panas dan gerah itu musnah.

Bukan esok yang indah dalam hayalan, bukan masa dimana semua harapan telah terkabulkan, bukan pula saat penyesalan datang dan meluluh-lantahkan semuanya. Harusnya aku sadar masa-masa yang terlewati dengan segala kesalahan dan keterpurukan karena kekurang-pahamanku akan makna dan tujuan dari kehidupan, itu semua ialah masa paling tepat untuk mengerjakan segala yang akan menjadikan aku bangga saat ini. Harusnya aku jadikan masa-masa itu sebagai sebuah perjuangan yang membanggakan, bukan justru ku curahkan hanya untuk mengejar ketidak pastian –yanki hari esok-. Harusnya aku kerjakan apa yang aku yakini sebagi sebuah kebenaran saat itu, sehingga aku tak begitu khawatir dengan hari esok. Harusnya aku tak menaruh harapan di kemudian hari, melainkan aku usahakan setiap detik yang terlewati dengan penuh kebanggaan. Tapi sekarang waktu itu telah terlewatkan, haruskan aku berharap hari esok akan ada lagi dan menghampiri dengan membawa semua harapan itu ?

Wow…., terlalu lama aku berada di deket jendela ini, sehingga aku menggigil ketakutan akan kegagalan di hari esok, dan penyesalan di setiap saat yg terlah terlewatkan. SADAR….!!!! Segera sadari apa yang kamu mau. Segera tidur, bangunlah esok hari, kemudian buat lembaran baru yang indah, yang tak kan ada masa tersisakan oleh hal sepele dan tidak juga akan menghasilkan sebuah penyesalan. Sanubari bertanya ” Dengan apa aku jalani semua itu ?”, tentu saja dengan pemahamanmu akan kehidupan ini, sehingga pemahaman itu akan menjadi alat pembaca petunjuk yang ada, dan akan menjadikan hari-harimu begitu berwarna, mengalahkan birunya langit di malam purnama, dan melebihi indahnya warna emas di samudera saat fajar menjelang dan matahari bersembunyi. Hidup itu dijalani dengan sebuah tujuan nyata yang setip orang bisa baca, yang setiap masa mampu menerima, yang setiap waktu menjadikannya sempurna. Hidup itu dijalani dengan ideologi yang membentuk kerakter sejati sebagi seorang manusia yang fitrah. Manusia yang paham dan sadar posisi dan kedudukan dirinya dalam kehidupan ini, yakni sebagai seorang hamba yang diciptakan oleh Dzat yang maha Kuasa (Allah s.w.t) sehingga sepantasnya tunduk dan patuh terhadap apapun perintah dan larangannya. Kehidupan yang dijalai dengan menggunakan peraturan yang memang Allah wajibkan. Itu yang HARUSNYA KAU CAMKAN…!!!

November, 2009

Anak Selanegara

Perihal Sarip Hamid
Seorang yang sejak lama telah belajar menjadi manusia, menjelajahi samudera kehidupan dengan modal keberanian, keyakinan, dan kesabaran. Maka ia pun menemukan apa yang menjadi sebuah motto kehidupan; Think Globally, Act Locally and Keep Originally.

16 Responses to Memaknai Kehidupan

  1. pelancongnekad mengatakan:

    Nice shot man!
    did you take it yourself?

  2. sarip2hamid mengatakan:

    aku suka sastra dan aku bisa membuatnya, meski terkadang hanya untuk memuaskan diri saja lol🙂

  3. & edi mengatakan:

    Tak ada waktu yg terlewatkan, tak ada waktu yg percuma, karena waktu adalah sekarang.. dan ia sungguh berarti..

    Salam kenal, keep blogging..

  4. pakaian indonesia mengatakan:

    semangat mas,menjalani kehidupan ini…

  5. wibisono mengatakan:

    ditulis di bulan november 2009 dan di post di bulan oktober 2011.. wowww

    • sarip2hamid mengatakan:

      iya, itu catatan-catatan masa silam, daripada terurai begitu saja dalam buku lebih baik di abadikan di dunia maya, dan berharap bisa menjadi inspirasi bagi orang lain *-)

  6. Balidailyphoto mengatakan:

    Hidup memang harus kita maknai mas.
    Jangan hanya ikut arus saja kita hidup di dunia ini.

  7. yunie mengatakan:

    Terinpirasi dari postingan ini….😀
    Tidak ada yang perlu di takuti di dunia ini… semua itu perlu di pahami😉

    • sarip2hamid mengatakan:

      yupz……, thanks banget sudah mau baca dan mau berkomentar ttg posting aku, bener banget tak ada yang perlu di takuti tapi memang harus di pahami dan dijalani dengan batas kemampuan ttg apa yang menjadi sebuah pemahaman.
      🙂😉 *)

  8. oomguru mengatakan:

    mau baca sampe endingnya,, keburu ngantuk..
    lanjut besok aja deuh yak -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: