Aku Menjemput Embun

Segerombolan cahaya berkumpul menimbulkan wara emas yang menyilaukan pandangan, pagi ini serasa tak seperti biasa.
Aku tergeletak di antara cita dan angan yang mencair oleh dinginya udara subuh. Suara burung bersiur seperti mengisyaratkan agar aku segera berhela (bernafas) dan menyadarkan diri, bahwa saat ini telah sampai di ujung perjalanan malmku. Aku mesti bersiap mennjumpai setiap tantangan yang akan mengujiku sepanjang siang mendatang. Tubuhku menggigil tanpa baju, merasakan segar dan sejuknya kabar yang dibawa oleh jaman, menjanjikan semua kebahagian dan kesejahteraan yang sudah berabad lampau tak pernah mempir di gubuk-gubuk para jelata. Hujan pun menguatkan setiap tetes ciprataan embunnya akan angan yang timbul dari ingatan. Seketika itu aku berusaha untuk berpikir dan mencoba menjadi diri yang apa adanya. Jiwaku berbisik sesuatu yang lebih mengerikan telah mwnunggu di setiap detik langkah yang akan kau ambil hari ini. Sanubari bertindak sebagi nahkoda, kemudian ia menggantikan setiap arah tujuan berlayar yang telah di sepakai semua awak kehidupan. Kini arah berubah haluan menuju pulau kebahagian yang misterius. Penglihatan tak kan mampu menanatap ke masa depan, karena awan memenuhi setiap ruang kosong di samudra tempat berlayar setiap bahtera. Seperti nakmpak semakin tak jelas yang menjadi tujuan hidup ini, ketika hanya mengejar apa yang kau harapkan. Hanya satu hal yang pasti ketika pagi menjelang, ia telah menanti kedatangan setiap insan di gerbang kedamaian, kematian.

Setetes embun menyegarkan setiap kedahagaan, menjadikan cita semakin menunjukan warna yang terang. Bahkan kadang mempertunjukan sebuah spektrum ketiak bergabung dengan cahaya, Pelangi. Ia bahkan tak hanya memeiliki satu wanra, melainkan tujuh sekaligus ia tunjukan kepada alam. Tahu kenapa ia bisa? karena ia mau berusaha meongpotimalkan segala potensi yang ada. bukan bersikukuh dengan harapan yang ia rancang. Bukan menjadi pribadi nekad yang memaksakan kehendak. Aku ingin menjadi pribadi yang senantiasa bisa peka akan peluang, individu yang jeli menyesuaikan kebutuhan (bukan keinginan), memiliki nurani yang manusiawi dan memiliki pemikiran yang jernih, mendalam dan menyeluruh. Sehingga bisa menatap setiap permasalahan dengan benar dan berusaha menterjemahkan setiap tantangan sesaui kemampuan. Aku takut menjadi manusia pemberani tanpa pengetahuan, jiwa yang kuat tanpa kepastian.

Ku songsong setiap harapan dan hayalan, aku transformasikan menjadi sebuah kebutuhan yang di usahakan dengan mengoptimalkan setiap kemampuan dan peluang yang muncul. Akan aku jemput embun pembawa kesejukan, zat penghasil kesegaran. Sehingga akan nampak jernih setiap hal tanpa suram kelam. Hari ini adalah pilihan hidupku yang pasti menjadikan pribadi yang aku harapkan di masa mendatang.

Bogor, Februari 2011

Perihal Sarip Hamid
Seorang yang sejak lama telah belajar menjadi manusia, menjelajahi samudera kehidupan dengan modal keberanian, keyakinan, dan kesabaran. Maka ia pun menemukan apa yang menjadi sebuah motto kehidupan; Think Globally, Act Locally and Keep Originally.

4 Responses to Aku Menjemput Embun

  1. yunie mengatakan:

    segernya liat pepohonan yang d tetesin embun… hirup udara dulu yaaaa… heeemmmm😉
    link kamu udah terpasang di http://yuni1980.wordpress.com/link-friends/

    • sarip2hamid mengatakan:

      wah sejujurnya kalau aku lebih suka suasana pantai, soalnya di bogor ndk ada pantai eum biasa liat embun dan dinginnya udara pagi di pegunungan, he..he.. Tapi aku bukan org yang tak tahu terima kasih atas apa yg sekarang terjadi, Thanks God.

      Iya makasi, Link Bak Yuni juga sudah duluan aku pasang.

  2. bensdoing mengatakan:

    gambaran alam di pagi hari yang sangat indah…..
    sy menikmatinya seminggu sekali dgn bersepeda….bung Sarip !
    nice post…..
    salam kenal ya…..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: