Tugas Pertamaku -“Jayapura”-

DSCN120114 April 2012 menjadi hari kesekian kalinya aku mendapatkan panggilan untuk bergabung dalam sebuah institusi pendidikan –yah mungkin bahasa kerennya “Panggilan Kerja” –, dan sore itu aku merasa lebih tertantang karena ditawari untuk bertugas di Jayapura – Papua, daratan yang berjarak puluhan ribu kilo meter dari tempatku sekarang berada –. Perlu sedikit mengerutkan jidat untuk memberikan jawaban atas tawaran tersebut, karena aku adalah orang yang terbiasa cepat memutuskan segala hal namun terkadang menjadi banyak pertimbangan setelah berada dalam situasi dan kondisi tersebut. Yang menjadi perkara dalam benak saat itu adalah ini tantangan yang sangat besar bagiku, ini kesempatan yang selama ini aku harapkan –bisa keliling Indonesia gratiss– dan ini adalah masalah hidup yang tidak bisa aku anggap enteng begitu saja. Aku tidak pernah berharap medapatkan kekecewaan kelak setelah melewati fase ini, baik dengan jabawan menerima atau menolak tawaran tersebut, maka aku perlu pendapat dan perspektif pemikiran lain untuk bisa memutuskan hal ini, bertanya adalah pilihanku dalam waktu beberapa jam saja sebelum aku wawancara dengan pihak yang menawarkan pekerjaan ini pukul 11 W.I.B besok siang. Baca tulisan ini lebih lanjut

a window

IMG_6192

Menggantung Cita pada Bintang Angkasa tertinggi

Ragaku tersungkur, bisu dan membau bersama angin zaman takberarah
Anganku terkujur, beku dan menua bersama debu sajlu jalanan musim lalu
Harapku tergelincir, leleh dan mecair bersama pijaran lava setiap bencana
Asaku melayang, mengembun dan mengkristal bersama gumpalan awan jabangbayi yang kelak menjadi “Hujan”

Aku menjadi letih atas setiap tetesan partikel angin di musim hujan
Aku menjadi kerdil atas setiap kristal butiran asin biuh lautan
Hingga tak mengerti lagi apa bentuk langkahku setelah ini Baca tulisan ini lebih lanjut

Antara Harapan dan Penyesalan

Butuh sedikit waktu untuk tetap bisa menjalani apa yang menjadi sebuah kewajiaban
Bukan karena sungkan dan malas di masa itu
Memang semuanya seperti bersamaan menghimpit dan mendesak agar langkahku tak bergerak
Merengek dan memelas, jika memang harus. Akankah aku perbuat?
Sesak menelisik memenuhi setiap relung sanubari
Gelap pekat menghimpun setiap ruang dalam otak
Hati sepenuhnya merasakan jeritan setiap inti sel dalam organ
Baca tulisan ini lebih lanjut

Masa Sekolah Dasar (MSD)

Wah……., pagi ini saya baru sempat nangkring di site (maklum lagi masa ngejar-ngejar Dozen untuk acc Final Paper, ….lo.. :) ) dan ternyata ada tugas buat bikin coretan tentang masa anak-anak oleh Pelancong Nekad, ya…tugas ini konon ceritanya dibikin berantai untuk menjalin hubungan pertemanan sesama Blogger yang lain. Jadi yang sekarang sedang saya berpikir adalah siapa yang berikutnya akan saya kasih hadiah ini,….lol :)

Baiklah, setelah saya berusaha mengingat masa dimana saya masih serumah dengan Ibu dan Bapak (tercinta), akhirnya saya mendapati kenangan seperti ini:

Desa dimana aku lahir dan berkembang sampai kira-kira lulus sekolah dasar (SD) lah, merupakan tempat yang masih belum mengenal istilah Taman Kanak-Kanak (TK), atau TPA (Tempat Pembuangan Akhir, wesssss…. :) salah maksudnya: Tempat Penitipan Anak), apalagi istilah PAUD (pendidikan anak usia dini). Jadi di Desa ini tak ada anak kecil satupun yang pernah merasakan enak dan atau tak enaknya makan bangku Taman Bermain ( ngeri juga ni bahasan…… :) ). Baca tulisan ini lebih lanjut

Sadarilah

Ku tatap garis batas yang menggores cakrawala di upuk senja

Sanubari mencermati camar, bergerombol dan menghangatkan sunyi laut

Sadarku kian menipis di kenyataan hidup yang membuih terombang oleh pasangnya gelombang

Hasrat dan semangat menggebu menyapu berlomba dengan ombak untuk menghantam setiap karang yang menjadi penghalang

Pecundang, jika citamu diukir pada nampan kegalauan atas dalamnya samudera yang membuih bersama gelombang menghilang tertelan angin

Baca tulisan ini lebih lanjut

Memaknai

Dalam riak malam aku berlari mengantarkan gelisah melewati setiap lekukan ruang kehidupan

Hingga ujung waktu tak ku lepaskan cengkraman jiwa, menjaganya agar tak larut bersama hening

Harusnya tak seperti itu sikap seorang yang ikhlas menerima apa yang telah menjadi garis kehidupan

Karena menjadi rapuh dan pudar makna kesungguhan bila tertetes bercak warna keraguan

Aku hendak menjadi seutuhnya manusia yang menyertakan ruh dalam kehidupan yang bernafas

Ruh yang memberi makna atas partikel niat yang mengisi setiap relung sanubari, juga menjadi tempat persinggahan asa dikala letih menyapa

Menjadikan kalbu pangkal ke-arif-an dan pemikiran sebagai alasan peneguh segala perbuatan

Pribadi sejati dengan beribu cacat dan peluh sumber ia beranjak mengarungi sepenggal cerita pana

Memaknai Kehidupan

Malam ini begitu cerah, seterang laut di saat fajar datang dan siang lenyap menghilang. Aku rebahkan otak dan sekejap ku lepaskan kepenatan yang menyiksa, sebagai sisa-sisa perjuangan di hari kemarin. Aku buka jendela agar ada udara –yang begitu kental dengan bau peradaban jaman moderen– masuk dan memenuhi setiap relung sanubari, tempat untuk menitipkan kedamaian dan ketentraman jiwa.  Ada bayak hal yang terjadi hari kemarin, sehingga sepertinya tak akan cukup jika keringat kujadikan tinta dan pori-pori kulit menjadi lubang pena untuk merangkai kalimat dan menceritakan setiap peristiwa. Begitu eksotis hari itu, sehingga tak mungkin bisa aku lupakan begitu saja, bahkan seandainya  kau kupas kulit ini, kemudian kau cucui dengan air laut, tak akan mungkin mampu manghapus setiap inci sketsanya dari memori otak ini. Tahu kenapa?, karena aku tulis setiap kejadiannya dalam setiap butiran sel darah merah dan aku edarkan keseluruh raga dengan batuan pembuluh vena, bahkan aku ceritakan kembali ke setiap syaraf yang sadar dan aku ukir di setiap tulang, jadi selamanya akan ada dan melekat dalam raga ini.

oh……, terasa amat dingin angin malam ini, Baca tulisan ini lebih lanjut

Selalu bertanya Mengapa?

Ketika hujan menjadi isyarat akan kehadiran petir dan halilintar,
lalu gelap adalah tanda akan sang malam menjelang datang.

sekarang apa yang bisa menjadikan alasan bahwasanya engkau itu benar-benar ada ?

Tidakah kau merasa malu dengan angian yang menyebabkan gerahmu tiada,
tidakah kau merasa iri akan dinginnya malam yang bisa melelapkan mimpimu sehingga menjadi sempurna, bukankah cahaya senja itu meng-Emas-kan semua benda yang Ia sapa,
bukankah cahaya Fajar itu menjadi awal setiap kehidupan yang ada di setiap harinya.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Kado untuk Mama di thn Baru

Pagi ini begitu hangat, berbeda dengan siang dan malam beberapa minggu dan tahun kebelakang. Tatkala hati dirundung keluh dan asa berselimut kesah, sehingga tampak jelas raut wajah khawarit dan gelisah yang teramat pada wajah Ibu saat aku memutuskan untuk hidup sendiri di sapana rantau yang begitu rimba. Bahkan begitu nampak sempurna sketsa tak tega dalam hati Ayah saat itu juga. Tapi tekad ini telah bulat, sekeras karang, setebal bumi yang kabarnya tujuh lapis dan sederas ombak di samudera bebas yang sejarah mencatat dapat menenggelamkan kapal termegah. Maka hanya malaikat Ijroil saja yang akan mampu menahanku ketika itu.

Itu segores garis hitam yang bertabur emas dalam perjalanan menuju muara kehipuan yang sedang dan telah aku tempuh. Saat ini begitu indah dan bangga aku ceritakan pada setiap teman yang bertanya, “Kok kamu bisa hidup begitu tegar ?”

Malam tadi aku bertemu Ibu dalam anganku, lalu kuliah wajah teduhnya. Terasa menusuk jiwa dan menghancurkan nurani ketika ku tatap kedua matanya berlinang mutiara kasih sayang yang begitu jernih, seputih salju di musim gugur, dan sesegar Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.