Tugas Pertamaku -“Jayapura”-
22 Mei 2012 4 Komentar
14 April 2012 menjadi hari kesekian kalinya aku mendapatkan panggilan untuk bergabung dalam sebuah institusi pendidikan –yah mungkin bahasa kerennya “Panggilan Kerja” –, dan sore itu aku merasa lebih tertantang karena ditawari untuk bertugas di Jayapura – Papua, daratan yang berjarak puluhan ribu kilo meter dari tempatku sekarang berada –. Perlu sedikit mengerutkan jidat untuk memberikan jawaban atas tawaran tersebut, karena aku adalah orang yang terbiasa cepat memutuskan segala hal namun terkadang menjadi banyak pertimbangan setelah berada dalam situasi dan kondisi tersebut. Yang menjadi perkara dalam benak saat itu adalah ini tantangan yang sangat besar bagiku, ini kesempatan yang selama ini aku harapkan –bisa keliling Indonesia gratiss– dan ini adalah masalah hidup yang tidak bisa aku anggap enteng begitu saja. Aku tidak pernah berharap medapatkan kekecewaan kelak setelah melewati fase ini, baik dengan jabawan menerima atau menolak tawaran tersebut, maka aku perlu pendapat dan perspektif pemikiran lain untuk bisa memutuskan hal ini, bertanya adalah pilihanku dalam waktu beberapa jam saja sebelum aku wawancara dengan pihak yang menawarkan pekerjaan ini pukul 11 W.I.B besok siang. Baca tulisan ini lebih lanjut


Ketika hujan menjadi isyarat akan kehadiran petir dan halilintar,
Pagi ini begitu hangat, berbeda dengan siang dan malam beberapa minggu dan tahun kebelakang. Tatkala hati dirundung keluh dan asa berselimut kesah, sehingga tampak jelas raut wajah khawarit dan gelisah yang teramat pada wajah Ibu saat aku memutuskan untuk hidup sendiri di sapana rantau yang begitu rimba. Bahkan begitu nampak sempurna sketsa tak tega dalam hati Ayah saat itu juga. Tapi tekad ini telah bulat, sekeras karang, setebal bumi yang kabarnya tujuh lapis dan sederas ombak di samudera bebas yang sejarah mencatat dapat menenggelamkan kapal termegah. Maka hanya malaikat Ijroil saja yang akan mampu menahanku ketika itu.